Tuesday, November 15, 2016

Nyanyian Senja TKW

  Daun-daun layu, jatuh berguguran. Tak ada lagi Kehidupan baginya. Mereka terbuang hina tak mempunyai makna berarti. Seperti aku yang dianggap hina bahkan tak ada harganya disini, di Malaysia. Disinilah aku berusaha mencari sebutir beras, menitih kehidupan baru yang kuanggap akan lebih baik namun dugaanku meleset. Ini bahkan bukan kehidupan, aku seperti telah berada dijurang Neraka yang sangat panas. Dimana aku selalu disiksa, dikucilkan, bahkan tak mempunyai harga diri. Kehidupan menyedihkan ini dimulai sejak aku memilih untuk berhenti melaksanakan kewajibanku sebagai seorang pelajar dan lebih memilih mencari uang. Tesya, sahabat karibku sungguh tega menjerumuskan aku kedalam dunia kerja ini, menjadi TKW yang awalnya sangat kuyakini dapat merubah kehidupan orang tuaku yang sederhana. Kala itu umurku masih menginjak Lima belas tahun. Aku tergiur dengan janji-janji kekayaan. Namun semua itu hanyalah bualan dan khayalan semata. Tangisan orang tuaku takkan pernah aku lupakan ketika aku melangkah pergi ke mimpi buruk yang tak pernah aku bayangkan.

sumber gambar: smeaker.com

 Kala senja menghampiri, aku diperbolehkan istirahat sejenak , hanya enam puluh menit. Namun enam puluh menit itu sangat berarti bagiku. aku menyendiri, melantunkan sebuah lagu diiringi tetesan air mata.
 Aku ingin pulang.. ingin cepat pulang
 Agar aku dapat bertemu Ayah Ibu..
 Aku ingin pulang.. ingin cepat pulang..
 Ingin cepat memeluk Ayah Ibu..
 “Jatira!” panggil seseorang yang membuat aku menghentikan lantunan laguku. kulirik kearahnya. Dia Helen, teman kerjaku yang baru dan kami selalu bersama selama masa-masa pahit di Malaysia ini. Dia lima tahun lebih tua dariku sehingga telah kuanggap sebagai kakak sendiri. Kami saling membantu, walaupun akhirnya kami harus menanggung akibatnya.
 “Kamu selalu aja melantunkan lagu itu setiap senja. Kamu gak bosan menitikkan air mata itu? Kakimu sudah sembuh?” tanyanya. Aku hanya menggeleng kecil.
 “Kamu harus kuat Jatira! Aku yakin suatu saat kita pasti pulang. Majikan kita memang tak punya rasa kasihan ya!. Jika dia manusiawi, pasti dia tidak akan menghembat kakimu dengan kayu hanya karena kamu melakukan sedikit kesalahan.” Tegasnya
 “Sudahlah! Rasanya sudah biasa.  Sebelum kamu bekerja disini, Aku telah merasakan yang lebih dari ini.”
 “Terkadang aku heran Jatira! padahal kita sesama Muslim, satu kepercayaan tetapi kanapa mereka memperlakukan kita bagaikan binatang. Mereka pasti sangat tau, Islam tak pernah mengajarkan kita untuk menganiaya sesama Muslim. Tapi, apa karena kita hanyalah seorang TKW yang mengharapkan belas kasihan dari mereka hingga mereka boleh menyiksa kita sesuka hati?”
 “Aku tak pernah tau alasan mereka melakukan kita seperti ini. Kita hanya bekerja, mencari karunia Tuhan didunia ini. Mungkin Tuhan telah menulis takdir kita seperti ini, kita hanya bisa ikhlas menjalaninya walaupun perih selalu menemani.”
 “Hmmm. . Tak pernah aku ingin seperti ini Jatira, bahkan untuk bermimpi pun aku enggan” gumamnya. Aku hanya terdiam. Tiba-tiba siraman air mendidih menghujam tubuh kami.
 “Bagus ya! enak-enakan kalian disini, bukannya kerja! Saya gaji kalian itu buat jadi budak disini, bukan hanya duduk. Ngerti ! cepat kalian masuk!” bentak majikan kami. Lalu berlalu meninggalkan kami yang harus menahan rasa sakit akibat air mendidih yang disiramnya. Sebentar saja kulit kami melepuh bagaikan lumpur di Sidoardjo.
                                 ***
Sudah lima hari Helen dirawat dirumah sakit. Akibatnya tak lain  adalah karena siraman air mendidih yang membuat kulitnya terkelupas. Helen memang terlampau lemah menghadapi semua ini. Tubuhnya tak mampu menahan semua siksaan ini. Jika dibandingkan, kulitku lah yang mengalami banyak luka, terkelupas dan selalu mengeluarkan darah. Namun aku selalu diberi Tuhan kekuatan walaupun aku menganggap kelemahan tak lagi memiliki kekuatan bahkan untuk secuil saja pun rasanya tidak mungkin. Kuakui Majikanku memang sangat tak mempunyai rasa kasihan. Dia takut jika hartanya habis harus membayar terus menerus biaya perawatan Helen. Dia memulangkan Helen ke Indonesia dengan keadaan yang tak sepantasnya. Aku hanya bisa bersedih, tak ada lagi teman berbagi disini. Kini hanya ada aku dan Sejuta Aniaya yang telah menanti.
 Aku ingin pulang.. ingin cepat pulang
 Agar aku dapat bertemu Ayah Ibu..
 Aku ingin pulang.. ingin cepat pulang..
 Ingin cepat memeluk Ayah Ibu..
Isak tangisku mengiringi kepergian senja yang berganti gelap gulita.
                                ***
Semakin lama aku semakin menyendiri, tak ada semangat lagi dalam hidupku ketika kudapati kabar dari Indonesia Bahwa Orang tuaku telah tiada karena kecelakaan.  Hatiku sangat hancur, aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Aku tak peduli, siksaan seperih apalagi yang akan diberikan padaku oleh majikanku itu Karena tujuan hidupku kini telah musnah.
Bagiku kini Rupiah tak ada artinya lagi, tak akan mengubah semua mimpi buruk ini menjadi lebih baik, bahkan Rupiah tak akan bisa mengembalikan Orang tuaku kedunia ini lagi. Setiap hari aku hanya menangis, hingga Majikanku mengurungku kedalam gudang. Dia bilang aku ini Hina, aku ini sudah Gila, aku tak pantas lagi Bernafas. Dia menghantamku dengan sapu ijuk hingga punggungku memar, dia tak pernah memberikanku makan hingga tubuhku kurus hanya kulit yang menutupi tulang. Dia seolah tak membiarkanku untuk hidup. Setelah empat hari dia memperlakukan aku seperti itu, dia menyerah, dia mengirimku pulang.
Ya, sejenak aku memang masih dapat menghirup segarnya udara Tanah Kelahiranku ini. Namun aku terjatuh kaku, tepat saat aku menginjak bumi pertiwi ini. kupandangi langit senja yang seolah menantiku, angin sepoi yang seolah ingin menerbangkan jasadku, orang-orang mulai ramai berdatangan mengelilingiku, Aku mencoba tersenyum kearah mereka. Semakin lama mataku semakin samar-samar melihat kehadiran mereka. Dan semakin lama lenyap begitu saja.
 Aku pulang Ayah Ibu...

Penulis : Susi Widiwati

No comments:

Post a Comment