Aku benci mengapa orang Indonesia harus menjadi pembantu di luar negeri? Begitulah sinisnya pikiranku saat masih dalam zona nyaman, sekolah, tanpa perlu memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk bertahan hidup, yang kutahu hanya belajar. Sepertinya aku harus menjilat ludahku sendiri. Ketika lulus pendidikan Sekolah Menengah Atas(SMA), kehidupan baru dimulai.
Aku mencoba mencari bantuan beasiswa S1 ke beberapa perusahaan besar di daerahku, namun melihat kondisi ekonomi keluarga terpuruk, akupun mengurungkan niatku. Selang beberapa hari di rumah, aku dilanda kebosanan dan memutuskan untuk melamar pekerjaan di toko baju. Puji Tuhan, aku diterima dan langsung berkerja. Namun aku masih kurang puas dengan apa yang aku kerjakan saat itu. Bangun pagi pukul 4 sudah harus antri mandi, pukul 7 toko baru dibuka dan terus berdiri sambil merapikan baju tidak lupa merayu pembeli.
Kegiatan itu berlangsung hingga pukul 10 malam toko baru ditutup. Dan gaji yang kuterima sungguh mengecewakan, 200.000 rupiah(setara NTD700 waktu itu) perbulan hanya cukup untuk membeli keperluan mandi dan sedikit tabungan.
Aku pikir jika terus seperti ini, rasanya hanya membuang-buang umur. Tidak banyak berguna! Dalam waktu dua bulan aku sudah minta keluar dan pulang ke rumah dengan rasa capek serta malu pada keluarga karena tak bisa bertahan lama.